Sunday, June 25, 2006

belum saatnya terpasang bintang di dada singa oranje..

Image hosted by Photobucket.com
malam itu saya tidak merasa melihat sebuah pertandingan "sepak bola menyerang" seperti yang banyak diramalkan oleh para pengamat sepak bola. malam itu lebih seperti "sepak bola menyerang lawan". menyedihkan. karena yang bertanding malam itu adalah dua tim dengan nama besar di dunia. belanda, jagoan saya, si pengusung "total voetball" (namun sepanjang piala dunia ini sama sekali tidak menunjukkan ciri "total voetball" sama sekali) dan portugal yang selalu dianggap "brazil-nya eropa". tapi kenyataan malam itu berbeda. setelah gol yang dicetak maniche untuk portugal di menit 23, pertandingan mulai berubah menjadi layaknya ajang sirkus yang konyol. bunyi peluit dan kartu-kartu terus melayang dan akhirnya hanya menyisakan 18 pemain dari seharusnya 22 saat peluit panjang.
namun terlepas dari itu semua, permainan singa oranje malam itu memang menyedihkan. seorang komentator sampai berkata :"ini adalah permainan paling buruk belanda sepanjang yang pernah saya lihat..". mungkin memang benar. sepanjang saya mengikuti perjalanan belanda sejak 1988 ketika mereka menjadi juara eropa, ini memang penampilan yang paling buruk. semua serangan terkesan spekulatif dan asal-asalan. para pemain seperti bermain tanpa konsep sama sekali.
dan pada akhirnya..buat saya..para pemain belanda malam itu memang sama sekali tidak memperlihatkan keinginan untuk menang. bahkan disaat peluit panjang berbunyi para pemain hanya terlihat "sedikit" kecewa dengan hanya berjalan gontai meninggalkan lapangan. tidak terlihat kesan terpukul hebat seperti tangisan gascoigne saat inggris terdepak atau tangisan maradona ketika argentina ditaklukkan jerman di final piala dunia 1990.

memang belum saatnya terpasang bintang di dada pemain-pemain belanda. saya pun tenggelam dalam kecewa seiring dengan langkah-langkah gontai pemain belanda yang meninggalkan lapangan malam itu.

"..in any case, we tried to get up to their box and we created some chances. in the end we went for high balls and we didn’t have luck on our side.." (marco van basten, coach for netherland)

Monday, June 12, 2006

why bother?

Image hosted by Photobucket.com
saya masih setengah tertidur pagi ini di dalam mobil yang mengantarkan saya menuju kantor. mungkin sebagian kesadaran saya masih melayang-layang dalam bayangan pertandingan-pertandingan piala dunia yang beberapa hari ini menjadi penguasa tunggal dalam kehidupan sebagian besar manusia di muka bumi ini. sayup-sayup terdengar suara dua penyiar radio yang asik ngobrol dengan suara yang mengganggu. satu laki-laki dengan gaya bicara cempreng betawi tengil ala komeng dan satu perempuan dengan suara serak-serak basah ala renny djayoesman...agak perih terdengar di telinga. karena mulai terganggu, saya justru jadi berusaha mendengarkan topik yang ramai mereka diskusikan tersebut. ternyata mereka sedang membahas penampilan titik soeharto sebagai presenter dalam acara piala dunia di televisi. lebih parah lagi, acara talk show yang ngawur itu juga dibajiri dengan sms-sms yang berisikan protes-protes keras atas penampilan putri sang mantan penguasa orde baru itu. hampir semuanya (dengan nada emosi) menyatakan bahwa mereka sangat merasa terganggu dengan penampilan si presenter tersebut. kemudian setibanya saya di kantor, saya membaca di salah satu portal berita internet yang ramai memberitakan masalah penampilan si presenter tersebut, bahkan sampai sempat menjadi bahan pergunjingan di salah satu sidang wakil rakyat di senayan.

terus terang saya tidak mengerti kenapa hal ini tiba-tiba bisa menjadi suatu masalah yang begitu besarnya buat sebagian orang. bagi saya sendiri, saya tidak terlalu perduli siapapun orang yang didapuk untuk menjadi presenter di sebuah pertandingan sepak bola di televisi. Apakah memang sebegitu pentingnya arti seorang presenter dalam pertandingan bola?sebegitu pentingnya sampai harus membuat sebagian besar orang merasa kenikmatannya menonton pertandingan sepak bola tersebut menjadi ternoda? katanya mereka mengharapkan agar sang presenter digantikan dengan seorang yang lebih kapabel. kapabel?dalam bicara soal sepak bola? siapa sih orang yang kapabel bicara bola di indonesia?apakah ada?kalo soal pengetahuan mengenai sepak bola dijadikan acuan untuk dianggap kapabel, maka saya sendiri merasa diri saya sudah cukup kapabel untuk itu. dengan modal kecintaan saya terhadap permainan ini, kerajinan saya membaca tabloid bola seminggu dua kali untuk meng up date berita-berita sepak bola, diskusi-diskusi panjang dengan teman-teman sesama pecinta bola, saya rasa saya cukup kapabel. bahkan mungkin sebagian besar orang yang mengaku pecinta bola di muka bumi ini juga merasa kapabel. bangsa kita memang masih lebih banyak dipenuhi dengan pengamat-pengamat sepak bola berbakat dibandingkan dengan pemain-pemain yang berbakat.

sudahlah..why bother? selama pertandingan-pertandingan akbar piala dunia ini masih disiarkan secara komplit 90 menit (plus perpanjangan waktu dan adu penalti-nya untuk babak-babak selanjutnya). selama super oranje masih terus menjebol gawang lawan...selama the three lions masih bisa mengungguli lawan-lawannya...selama semua tim masih menyajikan permainan sepak bola yang ciamik dan menghibur..
saya tidak mau perduli siapapun yang menjadi presenter buat acara piala dunia tersebut..biarpun adolf hitler atau mussolini, atau model-model cantik dan sexy (yang pasti lebih tidak mengerti lagi soal sepak bola) atau politikus-politikus lokal atau seorang banci sekalipun..saya tidak perduli.

saya tidak mau ada satu hal pun yang bisa menodai kebahagiaan saya untuk menikmati ajang yang selalu saya nantikan penuh kerinduan setiap 4 tahun ini. toh kalau mau jujur, siapa juga sih yang mau memperhatikan penampilan sang presenter di saat-saat sebelum kick-off , jeda main, atau akhir pertandingan. bukankan lebih baik waktu-waktu itu kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti berusaha melawan kantuk, menyiapkan snack atau minuman ringan (atau minuman yang bikin kepala ringan..heheh), atau berdiskusi dengan teman-teman, menghibur pasangan yang kita abaikan selama pertandingan, pasang taruhan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih seru. sudahlah..kalau anda memang pecinta bola sejati..nikmati sajalah ajang naha dashyat ini.

jadi sekali lagi why bother?

You're just another face that I know from the TV show..I have known you for so very long I feel you like a friend..Can't you do anything for me, can I touch you for a while..Can I meet you on another day and we will fly away(turn it on again, genesis)

Monday, December 19, 2005

sepakbola adalah sihir...

Pertandingan itu telah memasuki menit terakhir. Ryan Giggs bersiap-siap mengambil tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Liverpool. Sekumpulan pemain berbaju merah dan putih terus bergerak berusaha mencari posisi terbaik untuk menyambut bola. Dada saya berdebar kencang sehingga hampir sulit bernafas rasanya.
Dan suatu kejadian anehpun terjadi. Entah saya berkhayal atau hanya karena alam bawah sadar saya sudah tidak bisa mengendalikan lagi imajinasi liar di kepala saya. Saya merasa melihat bola tendangan Giggs tersebut disambar dengan sundulan kepala oleh seorang rekannya dan melaju deras tak tertahan ke gawang Liverpool...dan bayangan ini saya lihat beberapa saat sebelum Giggs benar-benar melakukan tendangan tersebut. Ketika beberapa detik kemudian Rio Ferdinand benar-benar melesakkan bola sundulannya kegawang Liverpool, hampir meledak rasanya kepala saya. Benar-benar seperti mimpi!..absurd!..such a rush!kalau dewa sepakbola memang benar-benar ada..pasti dia sedang duduk disebelah saya malam itu..

Suatu hari seorang sahabat saya, Sam ikid pernah berkata: "bola itu kayak sihir..kita ngga tau kapan mulai sukanya". Mungin memang benar..sepak bola itu memang sihir dan saya adalah salah satu korban sihirnya...

Image hosted by Photobucket.comPerkenalan saya dengan sepakbola dimulai dari almarhum ayah saya yang sangat tergila-gila dengan permainan ini. Samar-samar saya masih ingat seringkali disuruh tidur siang supaya bisa menemani ayah saya menonton pertandingan bola malamnya. Ayah saya seringkali mengajak saya kelapangan kosong didekat rumah untuk bermain tendang-tendangan bola. Lalu ayah saya juga pernah memaksa saya ikut sebuah klub sepakbola untuk anak-anak. Tapi karena saat itu rata-rata anak-anak di klub itu usia dan tubuhnya jauh lebih besar dari saya, maka habislah saya jadi bulan-bulanan. Tapi sang pelatih seringkali segan untuk mengganti atau menegur saya karena ayah selalu selalu ada dipinggir lapangan dan bahkan terkadang ikut mengatur permainan. Dan yang pasti ayah saya jauh lebih galak dari sang pelatih. Tiap pulang latihan saya seringkali menahan tangis karena kaki dan badan saya sering sakit-sakit dibumbui sedikit omelan-omelan ayah saya kalau dia menganggap saya tidak bermain dengan benar. Namun lama-lama ayah saya mungkin menyadari kalau saya tidak menikmati metode latihan sepakbolanya itu (dan dengan bantuan pengertian dari ibu saya tentunya) maka sayapun berhenti berlatih di klub tersebut. Namun saya tetap rajin bermain bola dengan teman-teman main saya. Salah satu pertimbangan terpenting buat saya dalam memilih sekolah saat itu harus punya lapangan sepakbola (atau setidak-tidaknya punya lapangan cukup luas untuk bermain sepakbola).

Image hosted by Photobucket.comTahun 1982..Piala Dunia di Spanyol...Italia juara dunia dan Paolo Rossi menjadi top scorer (pemain pertama yang saya idolakan). Saya juga masih ingat ayah saya marah-marah karena maradona (pemain idola ayah saya sepanjang masa) dikartu merah akibat menendang selangkangan pemain brazil.

Lalu beberapa peristiwa besar di dunia sepak bola ikut mewarnai kehidupan masa kecil saya. Piala Eropa 1984 yang dimenangkan oleh Perancis dan Michel Platini-nya..Tragedi berdarah Heysel (1985)pada partai final Champions Cup antara Juventus dan Liverpool.

Image hosted by Photobucket.comPiala Dunia 1986 di Meksiko..Pemain yang paling didewakan oleh ayah saya, Maradona mengukuhkan namanya sebagai seorang legenda besar sepak bola dunia dengan mengantarkan Argentina menjadi Juara Dunia. Siapa yang tak ingat gol tangan Tuhannya yang kontroversial yang lalu ditebusnya dengan gol spektakulernya setelah melewati sampai 5 pemain Inggris. Sebagai anak berusia 10 tahun saat itu sayapun habis "didoktrin" oleh ayah saya bahwa Maradona adalah pemain bola terbesar yang pernah ada dimuka bumi ini. Setiap kali kami menonton pertandingan bola selalu saja terdengar komentar ayah saya.."wah..kalo maradona sih itu pasti gol.." atau.."wah kalo maradona itu pasti pemain bek-nya dilewatin semua"..juga "coba maradona yang ambil tendangan bebasnya, pasti dikasih tembakan pisang!". Bagaimana mungkin saat itu saya tidak ikut mendewakan maradona. Beberapa tahun kemudian ayah saya sangat terluka hatinya ketika mendengar kabar maradona menghancurkan kariernya karena narkotik. Tapi tetap saja saya masih sering mendengar komentar ayah saya.."huh..kalo maradona ngga kena narkotik pasti argentina juara lagi" atau "wah kalo maradona ngga kena narkotik nih pasti dia masih jadi bintang piala dunia.." Benar-benar fanatik maradona berat ayah saya itu..

Image hosted by Photobucket.comLalu giliran tim super oranje Belanda yang mencuri hati saya (sampai hari ini dan mungkin selamanya) ketika mereka menjuarai piala eropa 1988. Bayangan ganasnya van basten menjebol gawang, kejeniusan ruud gullit mengolah bola dan kerasnya permainan frank rijkaard terus menerus bermain di kepala dan hati saya. Suatu kali seorang teman ayah saya dari belanda pernah tercengang ketika saya saat itu bisa menyebutkan pemain-pemain tim belanda lengkap dengan posisi dan nomor punggungnya beserta pemain-pemain cadangannya. Sayapun seperti umumnya anak laki-laki lainnya tergila-gila bermain bola. Merengek-rengek minta dibelikan bola, sepatu bola adidas, kostum bola, dll. pada ayah saya. Sepakboal selalu menjadi topik pembicaraan saya dan teman-teman. Tiap kali jam pelajaran olah raga saya selalu memilih bermain sepak bola. Saya dan teman-teman selalu berkata "laki-laki main sepakbola!..yang banci boleh main basket sama cewek-cewek!". Tiap kali bermain bola dengan teman-teman saya selalu ngotot menjadi van basten. Gaya van basten saya pelajari dari video rekaman dan saya tiru habis-habisan(walaupun tidak bisa dibilang mirip juga). Tiap kali mencetak gol saya selalu bilang pada teman-teman.."gol gue mirip gol basten yang ini ya...mirip gol basten yang itu ya..". Sampai ketika trio belanda itu direkrut oleh AC Milan sayapun menjadi fans klub tersebut. Dinding kamar saya sampai penuh dengan tempelan-tempelan kliping koran dan foto-foto pemain-pemain idola saya tersebut.

1990..final fa cup antara manchester united dan crystal palace. Saya terpaku di depan layar kaca menyaksikan pertandingan yang heboh itu. Begitu ketat dan serunya pertandingan itu sampai harus dimainkan 2 kali sebelum dimenangkan oleh manchester united karena pertandingan pertama berakhir imbang 3-3 (ketika itu liga inggris masih belum mengenal adu penalti untuk menentukan pemenang pertandingan). Aksi Mark Hughes, Steve Bruce, Paul Ince dan Garry Pallister benar-benar membuat saya terpikat habis-habisan.Image hosted by Photobucket.com
Lalu kehadiran Eric "The King" Cantona bersama dribbling mautnya, gol-gol indah, dan operan-operan cantiknya..ditambah kontroversi-kontroversinya (insiden tendangan kung fu-nya kepada seorang penonton) ke Old Trafford pada tahun 1992 semakin membuat saya jatuh cinta habis-habisan pada manchester united. "Oooh..Aaah..CANTONA!!"


Image hosted by Photobucket.comSampai detik ini saya masih memproklamirkan diri saya sebagai die-hard fans manchester united (dan tim nasional belanda). Walaupun saya bukan warga manchester atau berketurunan inggris atau belanda, walaupun beckham terbang ke real madrid, glazer mengambil alih kepemilikan klub, fergusonsering salah strategi, sering gagal membeli pemain-pemain handal dan terancam dipecat, ronaldo yang selalu bermain tanpa konsep, fletcher yang tak jelas kemampuannya tapi selalu dipasang, scholes terancam buta dan pamor klub ini sedang merosot dilindas kejayaan Chelsea dan uang berlimpah boss rusianya itu. Saya akan selalu ikut bergembira tiap kali manchester united menang dan menjadi bad-mood berhari-hari jika mereka kalah. Saya juga masih berusaha menyempatkan diri bermain sepakbola walaupun harus selalu menanggung rasa sakit dan pegal-pegal luar biasa setiap kali habis bermain. Memang luar biasa sihir sepak bola itu. Dan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang terkena dan tak bisa lepas dari sihirnya.


..they have never really understood what it is that turns me into a furniture-kicking, door-slaming, growling bear most saturday evenings during the football season..(manchester united ruined my life, colin shindler)

Wednesday, November 23, 2005

Masteng..

Image hosted by Photobucket.com
Anda pernah mendengar istilah masteng?. Istilah ini biasanya digunakan dalam kalimat seperti: "itu orang gayanya masteng banget ya?" atau "kelakuan lo kayak masteng banget deh!"

Istilah ini jadi menarik buat saya karena akhir-akhir ini saya jadi cukup sering mendengar istilah tersebut dalam obrolan-obrolan saya dan teman-teman saya. (bahkan yang lebih mengesalkan, beberapa teman saya juga mulai sering menyebut saya masteng!!). Dan karena itulah maka istilah itu mulai mengganggu saya lalu akhirnya membuat saya tertarik untuk mengupasnya lebih dalam.

Istilah masteng sendiri (yang saya tau) berasal dari kata "mas-mas tengil" atau "mas-mas tengab (banget)". Yang ada dibayangan saya dulu masteng adalah seorang mas-mas berusia 30-40an dengan kemeja ketat kancing dibuka tiga tingkat, jeans ketat (lebih asyik lagi dengan sisir plastik disaku belakang) , rambut tebal belah tengah sedikit berjambul, berkacamata rayban (gaya polisi amerika) berdiri dipinggir jalan sambil bersiul-siul menggoda cewek-cewek yang lewat. Namun akhirnya saya sadari kalau itu adalah gambaran masteng di era 80-an (dimana saat itu sayapun masih seorang anak-anak yang polos).

Tapi sekarang tahun 2005, dan gambaran seorang masteng tentu sudah berubah. Dari hasil pembahasan saya dengan beberapa teman-teman saya, kami menyimpulkan bahwa masteng di era millenium ini adalah seorang pria, usia 30-40an, potongan rambut yang terpotong selalu sangat rapi, dengan kemeja atau polo shirt yang dimasukkan kedalam celana katunnya (celana bahan) yang sedikit baggy (mohon maaf sebesar-besarnya bagi yang merasa ada kemiripan). Bisa juga dengan gaya sedikit koboy dengan jeans ketat dan sepatu boot yang ngoboy juga. Musik yang diusungnya masih rock-rock tahun 80an (misalnya scorpion, bon jovi, white lion), atau juga bisa lagu-lagu dari grup-grup romantis seperti air supply misalnya (sekali lagi mohon maaf buat yang menggemari band-band yang saya sebut diatas). Seorang masteng juga ahli dalam menggunakan trik-trik gombal dalam menarik perhatian cewek(misalnya menegur dengan kata-kata"sendirian aja nih..boleh saya temenin?" atau "..aduh minuman saya kemanisan nih..mungkin karena saya minumnya sambil ngeliatin kamu ya?.."). Dari kalangan selebriti yang paling akurat untuk menggambarkan seorang masteng sejati (menurut saya dan teman-teman saya) adalah David Hasselhoff.

Tapi sebenarnya pria dengan dandanan dan selera musik tersebut diatas belum bisa langsung didaulat sebagai seorang masteng juga. Kemastengan seseorang justru sesungguhnya terpancar dari sikap dan perilakunya. Gambaran paling akurat buat saya untuk menggambarkan seorang masteng adalah seorang pacar dari temennya temen saya. Kita sebut saja namanya Edi (maaf bagi yang bernama sama). Edi ini adalah seorang pria berusia 36 tahun. Dandanannya kira-kira seperti yang saya gambarkan diatas. Dalam percakapan sehari-harinya Edi selalu menyebutkan dirinya sendiri dengan kata "Ogut" dan seringkali mengeluarkan joke-joke yang sangat 80-an sekali (joke-joke yang dulu sering kita baca di buku Lupus contohnya). Edi juga menerapkan aturan bahwa pacarnya harus selalu mencium pipinya jika turun dari mobilnya. Pokoknya bang edi ini adalah role model saya untuk seorang masteng.

Kira-kita itulah tadi pengertian dan gambaran singkat tentang seorang masteng bagi saya. Belum tentu akurat (bahkan mungkin sangat tidak akurat), karena tidak saya peroleh melalui riset dan observasi yang dalam juga survey yang mantap. Bisa jadi tiap orang punya gambaran yang berbeda-beda tentang masteng. Mungkin sebenarnya memang banyak ciri-ciri dari seorang masteng yang memang juga melekat pada diri saya (atau mungkin juga anda). Ya..mungkin saya memang juga seorang masteng..apakah anda juga masteng??

Friends say it's fine..Friends say it's good ..Everybody says it's just like Robin Hood ..I walk like a rat..Crawl like a cat..Sting like a bee ..Babe I'm gonna be your man (Twentieth Century Boy,T-Rex)

Monday, October 10, 2005

bocah...

Bocah itu menoleh kebelakang. Sekali lagi ia menatap ibunya yang sedang menangis. Ayahnya yang juga menangis. Lalu dilihatnya adiknya yang masih kecil. Ia terlalu kecil untuk menyadari kakaknya sudah tiada. Baginya kakaknya saat ini hanya tertidur dan sedang tidak bisa diajak bermain. Mungkin saat kakaknya bangun nanti ia akan mengajaknya bermain lagi.
Ia adalah seorang anak yang sangat menyenangkan. Si bocah itu. Sikap dan tutur katanya selalu manis. Loveable. Tidak ada hal yang menyebalkan untuk diingat darinya. Ia terlalu menyenangkan. Mungkin karena itu ia harus pergi.
Bocah itu menoleh ke belakang lagi untuk terakhir kalinya. Ia berikan senyum termanis bagi keluarganya untuk dikenang. Lalu ia pun melangkah menuju ke cahaya yang telah memanggil-manggil dirinya.
selamat jalan bocah..teman kecilku yang baik hati...
-ardi, 9 oktober 2005
(One by one..Only the Good die young..They're only flyin' too close to the sun..We'll remember..Forever... - No One But You (Only The Good Die Young), Queen)

Sunday, September 25, 2005

Bulan dan matahari yang kalah melawan takdir..

Image hosted by Photobucket.comAkhirnya semuanya berakhir. Perjalanan panjang mereka harus berakhir. Lelah dan terluka, mereka pun pulang..kembali pada takdirnya masing-masing.

"Keliling jagad raya!..kita akan berkeliling jagad raya!" kata bulan dengan bersemangat.
"Keliling jagad raya?denganmu?hanya denganmu?" tanya matahari dengan heran.
"Iya!..kita akan keliling jagad raya!..kau dan aku..berdua!"jawab bulan lagi.
"Hanya kau dan aku?apa kita sanggup?" kata matahari dengan ragu.
"Kau dan aku..kita begitu berbeda..memang sudah takdir kita untuk berbeda..kau tercipta untuk malam...aku tercipta untuk pagi...tidak mungkin kita muncul bersama..kita tidak akan pernah bisa bersama" kata matahari.
"Mengapa tidak? kita pergi bersama setelah kau menyinari bumi di siang hari..kita muncul bersama disaat senja!..tidak terang..juga tidak gelap!..bayangkan..kita memberikan keteduhan pada dunia..tapi tetap masih ada sedikit terang..senja adalah saat yang terbaik bagi manusia!..senja adalah saatnya pulang..berhenti bekerja..kembali kerumah..bertemu orang-orang yang disayangi..kita beri senja kepada dunia!..kita beri senja untuk selamanya bagi dunia!" teriak bulan.
"Apakah dunia akan bisa menerima kita jika kita bersama?"tanya matahari dengan sedih.
"Dunia harus terima!..jika mereka masih ingin ada bulan dan matahari diatas kepala mereka..maka mereka harus bisa menerima kita bersama-sama!"jawab bulan.

Maka dimulailah perjalanan itu. Bulan dan matahari. Perjalanan melawan takdir. Bergandengan tangan mereka. Mereka begitu bahagia. Tapi bagaimana dengan dunia?..Sejak saat itu, tidak ada lagi pagi, siang atau malam. Hanya ada Senja. Awalnya penghuni dunia menikmati keadaan itu. Senja memang salah satu saat yang paling menyenangkan bagi dunia. Tidak panas, tapi juga belum terlalu gelap. Sejuk dan hangat.Mereka tidak pernah harus pergi bekerja. Mereka selalu pulang. Sungguh menyenangkan.
Bulan dan mataharipun terus berjalan mengelilingi jagad raya..bersama. Mereka tertawa bersama, terkadang juga berbagi air mata. Tapi mereka bahagia.

Detik berganti menit, menit berganti jam namun jam tidak pernah berganti hari. Karena dunia selalu diselimuti senja. Tak ada pagi, tak ada malam, tak ada pergantian hari. Dunia mulai gelisah. Dunia mulai letih. Dunia pun mulai menggugat bulan dan matahari. Disaat mereka selalu bersama waktupun berhenti berjalan.

Bulan dan matahari tidak perduli. Mereka tetap berusaha keras untuk bisa bersama. Semakin keras dunia menggugat semakin keras mereka berpegangan tangan. Namun dunia tak mau dan tak bisa mengerti. Alam semestapun tak memberi restunya. Dunia dan alam semesta tak pernah lagi tersenyum dan memberi salam pada bulan dan matahari. Jagad raya juga semakin tidak bersahabat. Perjalanan bulan dan mataharipun semakin berat dan terjal. Dan akhirnya mereka sama-sama terjatuh keletihan dan terluka. Tak mampu lagi berjalan dan mendaki. Jagad raya terus merintangi perjalanan mereka. Dan kini dihadapan mereka berdiri kokoh bukit yang terlalu tinggi dan terjal.

"Mengapa jagad raya selalu menghalangi kita?"tanya matahari sambil menangis.
"Akupun tak mengerti, kita punya hak untuk memilih apa yang kita ingin lakukan untuk mencapai kebahagiaan, aku tak habis pikir mengapa mereka tak bisa menerima kita bersama"jawab bulan terbata-bata.
"Alam semesta dan dunia tak pernah lagi menyapa kita ramah..mengapa harus begini" tangis matahari.

Bulan dan matahari tidak mengerti..mereka sedang melawan takdir mereka. Sudah takdirnya bulan untuk menjaga dunia di waktu malam dan matahari untuk menghibur dunia di siang hari. Mereka tak mungkin bersama. Bulan tak mungkin menjadi matahari dan muncul di siang hari, begitu juga sebaliknya. Memang sudah takdirnya. Dan siapapun yang melawan takdir pasti akan kalah. Begitu juga bulan dan matahari. Untuk bisa bersama maka mereka harus melawan takdir. Dan mereka akhirnya kalah. Letih dan terluka mereka harus menerima kenyataan. Mereka memang bahagia bersama. Tetapi tidak dengan yang lain. Ternyata kebahagiaan mereka menjadi luka bagi yang lain.

Bulan dan matahari akhirnya menyerah. Bulan kembali menjaga malam dan matahari kembali mengibur dunia di siang hari. Itu takdir mereka. Dengan tidak bersama mereka bisa membahagiakan alam semesta, dunia dan jagad raya.

"Selamat malam bulan"kata matahari.."selamat pagi matahari"jawab bulan..
"Bagaimanapun, kita telah melewati perjalanan bersama yang menyenangkan, dan kita selalu bahagia..kau dan aku..alam semesta, jagad raya dan dunia akan selalu mengingat bahwa kita pernah bersama dan saling membahagiakan. Tak ada yang perlu disesali..kita akan selalu bertemu disaat pergantian hari, dan kita akan tersenyum lagi bersama..sapalah aku disaat fajar dan aku akan menyapamu disaat senja.."

Bulan mencium matahari untuk terakhir kalinya.

Every time we say goodbye I die a little..every time we say goodbye I wonder why a little..why the gods above me who must be in the know..think so little of me they allow you to go..When you're near there's such an air of spring about it..I can hear a lark somewhere begin to sing about it..there's no love song finer..but how strange the change from major to minor...every time we say goodbye. (Every time we say goodbye, Cole Porter)


(untuk kamu matahariku..semoga tetap selalu hangat dan bersinar terang...)

Thursday, September 15, 2005

"the reality is not in your TV........"