Pertandingan itu telah memasuki menit terakhir. Ryan Giggs bersiap-siap mengambil tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Liverpool. Sekumpulan pemain berbaju merah dan putih terus bergerak berusaha mencari posisi terbaik untuk menyambut bola. Dada saya berdebar kencang sehingga hampir sulit bernafas rasanya.
Dan suatu kejadian anehpun terjadi. Entah saya berkhayal atau hanya karena alam bawah sadar saya sudah tidak bisa mengendalikan lagi imajinasi liar di kepala saya. Saya merasa melihat bola tendangan Giggs tersebut disambar dengan sundulan kepala oleh seorang rekannya dan melaju deras tak tertahan ke gawang Liverpool...dan bayangan ini saya lihat beberapa saat sebelum Giggs benar-benar melakukan tendangan tersebut. Ketika beberapa detik kemudian Rio Ferdinand benar-benar melesakkan bola sundulannya kegawang Liverpool, hampir meledak rasanya kepala saya. Benar-benar seperti mimpi!..absurd!..such a rush!kalau dewa sepakbola memang benar-benar ada..pasti dia sedang duduk disebelah saya malam itu..
Suatu hari seorang sahabat saya,
Sam ikid pernah berkata: "
bola itu kayak sihir..kita ngga tau kapan mulai sukanya". Mungin memang benar..sepak bola itu memang sihir dan saya adalah salah satu korban sihirnya...

Perkenalan saya dengan sepakbola dimulai dari almarhum ayah saya yang sangat tergila-gila dengan permainan ini. Samar-samar saya masih ingat seringkali disuruh tidur siang supaya bisa menemani ayah saya menonton pertandingan bola malamnya. Ayah saya seringkali mengajak saya kelapangan kosong didekat rumah untuk bermain tendang-tendangan bola. Lalu ayah saya juga pernah memaksa saya ikut sebuah klub sepakbola untuk anak-anak. Tapi karena saat itu rata-rata anak-anak di klub itu usia dan tubuhnya jauh lebih besar dari saya, maka habislah saya jadi bulan-bulanan. Tapi sang pelatih seringkali segan untuk mengganti atau menegur saya karena ayah selalu selalu ada dipinggir lapangan dan bahkan terkadang ikut mengatur permainan. Dan yang pasti ayah saya jauh lebih galak dari sang pelatih. Tiap pulang latihan saya seringkali menahan tangis karena kaki dan badan saya sering sakit-sakit dibumbui sedikit omelan-omelan ayah saya kalau dia menganggap saya tidak bermain dengan benar. Namun lama-lama ayah saya mungkin menyadari kalau saya tidak menikmati metode latihan sepakbolanya itu (dan dengan bantuan pengertian dari ibu saya tentunya) maka sayapun berhenti berlatih di klub tersebut. Namun saya tetap rajin bermain bola dengan teman-teman main saya. Salah satu pertimbangan terpenting buat saya dalam memilih sekolah saat itu harus punya lapangan sepakbola (atau setidak-tidaknya punya lapangan cukup luas untuk bermain sepakbola).

Tahun 1982..Piala Dunia di Spanyol...Italia juara dunia dan
Paolo Rossi
menjadi
top scorer (pemain pertama yang saya idolakan). Saya juga masih ingat ayah saya marah-marah karena maradona (pemain idola ayah saya sepanjang masa) dikartu merah akibat menendang selangkangan pemain brazil.
Lalu beberapa peristiwa besar di dunia sepak bola ikut mewarnai kehidupan masa kecil saya. Piala Eropa 1984 yang dimenangkan oleh Perancis dan
Michel Platini-nya..Tragedi berdarah
Heysel (1985)pada partai final
Champions Cup antara
Juventus dan
Liverpool.

Piala Dunia 1986 di Meksiko..Pemain yang paling didewakan oleh ayah saya,
Maradona mengukuhkan namanya sebagai seorang legenda besar sepak bola dunia dengan mengantarkan Argentina menjadi Juara Dunia. Siapa yang tak ingat gol tangan Tuhannya yang kontroversial yang lalu ditebusnya dengan gol spektakulernya setelah melewati sampai 5 pemain Inggris. Sebagai anak berusia 10 tahun saat itu sayapun habis "didoktrin" oleh ayah saya bahwa
Maradona adalah pemain bola terbesar yang pernah ada dimuka bumi ini. Setiap kali kami menonton pertandingan bola selalu saja terdengar komentar ayah saya.."
wah..kalo maradona sih itu pasti gol.." atau.."
wah kalo maradona itu pasti pemain bek-nya dilewatin semua"..juga "
coba maradona yang ambil tendangan bebasnya, pasti dikasih tembakan pisang!". Bagaimana mungkin saat itu saya tidak ikut mendewakan
maradona. Beberapa tahun kemudian ayah saya sangat terluka hatinya ketika mendengar kabar maradona menghancurkan kariernya karena narkotik. Tapi tetap saja saya masih sering mendengar komentar ayah saya.."
huh..kalo maradona ngga kena narkotik pasti argentina juara lagi" atau "
wah kalo maradona ngga kena narkotik nih pasti dia masih jadi bintang piala dunia.." Benar-benar fanatik maradona berat ayah saya itu..

Lalu giliran tim
super oranje Belanda yang mencuri hati saya (sampai hari ini dan mungkin selamanya) ketika mereka menjuarai piala eropa 1988. Bayangan ganasnya
van basten menjebol gawang, kejeniusan
ruud gullit mengolah bola dan kerasnya permainan
frank rijkaard terus menerus bermain di kepala dan hati saya. Suatu kali seorang teman ayah saya dari belanda pernah tercengang ketika saya saat itu bisa menyebutkan pemain-pemain tim belanda lengkap dengan posisi dan nomor punggungnya beserta pemain-pemain cadangannya. Sayapun seperti umumnya anak laki-laki lainnya tergila-gila bermain bola. Merengek-rengek minta dibelikan bola, sepatu bola adidas, kostum bola, dll. pada ayah saya. Sepakboal selalu menjadi topik pembicaraan saya dan teman-teman. Tiap kali jam pelajaran olah raga saya selalu memilih bermain sepak bola. Saya dan teman-teman selalu berkata
"laki-laki main sepakbola!..yang banci boleh main basket sama cewek-cewek!". Tiap kali bermain bola dengan teman-teman saya selalu ngotot menjadi van basten. Gaya van basten saya pelajari dari video rekaman dan saya tiru habis-habisan(walaupun tidak bisa dibilang mirip juga). Tiap kali mencetak gol saya selalu bilang pada teman-teman.."
gol gue mirip gol basten yang ini ya...mirip gol basten yang itu ya..". Sampai ketika trio belanda itu direkrut oleh AC Milan sayapun menjadi fans klub tersebut. Dinding kamar saya sampai penuh dengan tempelan-tempelan kliping koran dan foto-foto pemain-pemain idola saya tersebut.
1990..final fa cup antara
manchester united dan
crystal palace. Saya terpaku di depan layar kaca menyaksikan pertandingan yang heboh itu. Begitu ketat dan serunya pertandingan itu sampai harus dimainkan 2 kali sebelum dimenangkan oleh manchester united karena pertandingan pertama berakhir imbang 3-3 (ketika itu liga inggris masih belum mengenal adu penalti untuk menentukan pemenang pertandingan). Aksi
Mark Hughes, Steve Bruce, Paul Ince dan Garry Pallister benar-benar membuat saya terpikat habis-habisan.

Lalu kehadiran
Eric "The King" Cantona bersama dribbling mautnya, gol-gol indah, dan operan-operan cantiknya..ditambah kontroversi-kontroversinya (insiden tendangan kung fu-nya kepada seorang penonton) ke Old Trafford pada tahun 1992 semakin membuat saya jatuh cinta habis-habisan pada manchester united. "
Oooh..Aaah..CANTONA!!"

Sampai detik ini saya masih memproklamirkan diri saya sebagai
die-hard fans manchester united (dan tim nasional belanda). Walaupun saya bukan warga manchester atau berketurunan inggris atau belanda, walaupun
beckham terbang ke
real madrid,
glazer mengambil alih kepemilikan klub,
fergusonsering salah strategi, sering gagal membeli pemain-pemain handal dan terancam dipecat,
ronaldo yang selalu bermain tanpa konsep,
fletcher yang tak jelas kemampuannya tapi selalu dipasang,
scholes terancam buta dan pamor klub ini sedang merosot dilindas kejayaan Chelsea dan uang berlimpah boss rusianya itu. Saya akan selalu ikut bergembira tiap kali manchester united menang dan menjadi
bad-mood berhari-hari jika mereka kalah. Saya juga masih berusaha menyempatkan diri bermain sepakbola walaupun harus selalu menanggung rasa sakit dan pegal-pegal luar biasa setiap kali habis bermain. Memang luar biasa sihir sepak bola itu. Dan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang terkena dan tak bisa lepas dari sihirnya.
..they have never really understood what it is that turns me into a furniture-kicking, door-slaming, growling bear most saturday evenings during the football season..(manchester united ruined my life, colin shindler)