why bother?
saya masih setengah tertidur pagi ini di dalam mobil yang mengantarkan saya menuju kantor. mungkin sebagian kesadaran saya masih melayang-layang dalam bayangan pertandingan-pertandingan piala dunia yang beberapa hari ini menjadi penguasa tunggal dalam kehidupan sebagian besar manusia di muka bumi ini. sayup-sayup terdengar suara dua penyiar radio yang asik ngobrol dengan suara yang mengganggu. satu laki-laki dengan gaya bicara cempreng betawi tengil ala komeng dan satu perempuan dengan suara serak-serak basah ala renny djayoesman...agak perih terdengar di telinga. karena mulai terganggu, saya justru jadi berusaha mendengarkan topik yang ramai mereka diskusikan tersebut. ternyata mereka sedang membahas penampilan titik soeharto sebagai presenter dalam acara piala dunia di televisi. lebih parah lagi, acara talk show yang ngawur itu juga dibajiri dengan sms-sms yang berisikan protes-protes keras atas penampilan putri sang mantan penguasa orde baru itu. hampir semuanya (dengan nada emosi) menyatakan bahwa mereka sangat merasa terganggu dengan penampilan si presenter tersebut. kemudian setibanya saya di kantor, saya membaca di salah satu portal berita internet yang ramai memberitakan masalah penampilan si presenter tersebut, bahkan sampai sempat menjadi bahan pergunjingan di salah satu sidang wakil rakyat di senayan.
terus terang saya tidak mengerti kenapa hal ini tiba-tiba bisa menjadi suatu masalah yang begitu besarnya buat sebagian orang. bagi saya sendiri, saya tidak terlalu perduli siapapun orang yang didapuk untuk menjadi presenter di sebuah pertandingan sepak bola di televisi. Apakah memang sebegitu pentingnya arti seorang presenter dalam pertandingan bola?sebegitu pentingnya sampai harus membuat sebagian besar orang merasa kenikmatannya menonton pertandingan sepak bola tersebut menjadi ternoda? katanya mereka mengharapkan agar sang presenter digantikan dengan seorang yang lebih kapabel. kapabel?dalam bicara soal sepak bola? siapa sih orang yang kapabel bicara bola di indonesia?apakah ada?kalo soal pengetahuan mengenai sepak bola dijadikan acuan untuk dianggap kapabel, maka saya sendiri merasa diri saya sudah cukup kapabel untuk itu. dengan modal kecintaan saya terhadap permainan ini, kerajinan saya membaca tabloid bola seminggu dua kali untuk meng up date berita-berita sepak bola, diskusi-diskusi panjang dengan teman-teman sesama pecinta bola, saya rasa saya cukup kapabel. bahkan mungkin sebagian besar orang yang mengaku pecinta bola di muka bumi ini juga merasa kapabel. bangsa kita memang masih lebih banyak dipenuhi dengan pengamat-pengamat sepak bola berbakat dibandingkan dengan pemain-pemain yang berbakat.
sudahlah..why bother? selama pertandingan-pertandingan akbar piala dunia ini masih disiarkan secara komplit 90 menit (plus perpanjangan waktu dan adu penalti-nya untuk babak-babak selanjutnya). selama super oranje masih terus menjebol gawang lawan...selama the three lions masih bisa mengungguli lawan-lawannya...selama semua tim masih menyajikan permainan sepak bola yang ciamik dan menghibur..
saya tidak mau perduli siapapun yang menjadi presenter buat acara piala dunia tersebut..biarpun adolf hitler atau mussolini, atau model-model cantik dan sexy (yang pasti lebih tidak mengerti lagi soal sepak bola) atau politikus-politikus lokal atau seorang banci sekalipun..saya tidak perduli.
saya tidak mau ada satu hal pun yang bisa menodai kebahagiaan saya untuk menikmati ajang yang selalu saya nantikan penuh kerinduan setiap 4 tahun ini. toh kalau mau jujur, siapa juga sih yang mau memperhatikan penampilan sang presenter di saat-saat sebelum kick-off , jeda main, atau akhir pertandingan. bukankan lebih baik waktu-waktu itu kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti berusaha melawan kantuk, menyiapkan snack atau minuman ringan (atau minuman yang bikin kepala ringan..heheh), atau berdiskusi dengan teman-teman, menghibur pasangan yang kita abaikan selama pertandingan, pasang taruhan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih seru. sudahlah..kalau anda memang pecinta bola sejati..nikmati sajalah ajang naha dashyat ini.
saya tidak mau ada satu hal pun yang bisa menodai kebahagiaan saya untuk menikmati ajang yang selalu saya nantikan penuh kerinduan setiap 4 tahun ini. toh kalau mau jujur, siapa juga sih yang mau memperhatikan penampilan sang presenter di saat-saat sebelum kick-off , jeda main, atau akhir pertandingan. bukankan lebih baik waktu-waktu itu kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti berusaha melawan kantuk, menyiapkan snack atau minuman ringan (atau minuman yang bikin kepala ringan..heheh), atau berdiskusi dengan teman-teman, menghibur pasangan yang kita abaikan selama pertandingan, pasang taruhan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih seru. sudahlah..kalau anda memang pecinta bola sejati..nikmati sajalah ajang naha dashyat ini.
jadi sekali lagi why bother?
You're just another face that I know from the TV show..I have known you for so very long I feel you like a friend..Can't you do anything for me, can I touch you for a while..Can I meet you on another day and we will fly away(turn it on again, genesis)

1 Comments:
Kalo dipikir-pikir, lucu juga lho komentar2 mereka di sela-sela break babak pertama. Bisa jadi ketawaan.
Dan lagian ngapain, emang banyak ya yang masih mau dengerin komentar tanpa aksi?
Aksi lebih penting dari sekedar komentar!!
HUAHAHAHHAHA
Post a Comment
<< Home